Arsitektur Belanda di Indonesia


Tulisan ini dibuat untuk disertakan dalam lomba Kompetiblog2010 yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia.


Sejak kecil, saya sering menyaksikan paman saya merancang bangunan, karena pekerjaannya adalah sebagai arsitek, dan saya sangat senang memandangi seluruh cetak biru dari rancangan bangunan-bangunan yang dibuatnya. Sehingga, sejak saat itu mulai tumbuh minat terhadap arsitektur didalam diri saya. Meskipun di kemudian hari saya tidak menggeluti dunia arsitektur, tetapi minat itu berkembang tidak hanya terhadap desain eksterior tetapi juga terhadap desain interior, dan tetap ada hingga saat ini.

Walaupun saya menyukai berbagai jenis arsitektur seperti neo-klasik, Asia Timur, Islam, modern dan post-modern, tetapi pada khususnya, saya menyukai arsitektur Belanda pada masa kolonial di Indonesia. Seperti benteng-benteng VOC dari abad ke-17, rumah pedesaan dari abad ke-18, bangunan-bangunan publik, pabrik-pabrik dan stasiun-stasiun kereta api bergaya neo-klasik dari abad ke-19, struktur-struktur modern dari tahun 1920-an dan 1930-an serta pembangunan arsitektur dari tahun 1950-an.

Kita dapat menemukan sisa-sisa dari arsitektur Belanda pada masa kolonial di beberapa kota yang tersebar di seluruh Indonesia seperti di Medan, Padang, Palembang, Bandjermasin, Manado, Batavia (sekarang berubah menjadi Jakarta), Buitenzorg (sekarang berubah menjadi Bogor), Bandoeng, Malang, Semarang, Djocja, Soerabaja, yang berupa perencanaan kota meskipun lebih banyak dipusatkan di pulau Jawa. Khususnya di Batavia, hal ini dapat terlihat di distrik Menteng, salah satu distrik prakarsa Eropa yang paling menarik di Asia.

Hubungan Belanda dengan Indonesia, khususnya Batavia, dimulai pada tahun 1619 dengan didirikannya Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen. Permukiman ini dirancang sesuai model Belanda, dengan jalan-jalan lurus dan kanal. Permukiman ini dikelilingi dinding yang berfungsi sebagai benteng, ‘Het Kasteel‘, yang telah dibangun sebelumnya sebagai pos perdagangan.

Pada pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, merupakan periode terpenting bagi arsitektur dan pengembangan perkotaan Belanda dan Indonesia. Sejak 1870 banyak perusahaan, dari Belanda maupun seluruh Eropa, mendirikan kantor di Hindia Belanda Timur. Setelah 1910, perkembangan ekonomi di Hindia Belanda Timur dan pertumbuhan populasi orang-orang Eropa mengarah kepada ledakan dalam hal konstruksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehidupan di koloni harus dibuat menyenangkan dan menarik mungkin dan perlu untuk segera membangun infrastruktur bagi kepentingan masyarakat.

Meskipun bangunan tersebut hampir secara khusus untuk kepentingan sebagian kecil penduduk Eropa, ide yang mendasari di balik ‘Het Indische Bouwen‘, sebagaimana orang Indonesia menyebut arsitektur Hindia Belanda Timur dari tahun 1900-an, adalah bahwa harus ada sebuah perpaduan antara struktur dan teknik ‘modern’ berorientasi barat dan bentuk-bentuk seni timur. Dengan kata lain, gaya bangunan dipinjam dari bentuk tradisional, dengan memperhitungkan setiap aspek dari kondisi iklim lokal.

Rancangan para arsitek Belanda ini selalu memperhatikan keadaan alam Indonesia, sebagai negara tropis. Bukan saja bahan bangunan, tetapi terutama juga model bangunannya, bagaimana bangunan itu harus akrab dengan udara tropis. Misalnya dengan atap tinggi untuk menghindari panas, atau dengan banyak jendela dan seterusnya. Gaya ini disebut sebagai gaya Indo-Eropa.

Seorang pengunjung ke Jakarta masa kini akan menemukan bahwa sangat sedikit pengingat masa lalu kota atau petunjuk bagaimana rumah bagi lebih dari sembilan juta orang tumbuh menjadi seperti sekarang ini. Tidak banyak bangunan tua dan penunjuk tersisa dan sulit membayangkan Jakarta akan tampak seperti apa seabad atau lebih yang lalu.

Gambar dari paruh kedua abad ke-18 menunjukkan bahwa ada banyak rumah-rumah pribadi besar sepanjang Molenvliet dengan pekarangan mewah dan kebun yang rumit, salah satu yang masih bertahan sampai hari ini dengan bentuk aslinya, adalah Gedung Arsip walaupun dengan pekarangan yang lebih kecil. Gambar dari kemewahan dan kemegahan tersebut memberikan Batavia julukan “Ratu dari Timur”.

Oleh karena itu, saya akan menulis tentang beberapa bangunan, yang salah satu diantaranya sudah ada sejak tahun 1760-an, jadi secara langsung menjadi bagian sejarah kota.


De Klerks Landhuis


Gedung Arsip © ijoli.multiply.com

 

Gedung Arsip © kabarmag.com

 

Bangunan ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reinier de Klerk yang juga tercatat sebagai Gubernur-Jenderal VOC pada tahun 1778-1780. Gedung ini didirikan sebagai rumah peristirahatan bagi Reinier de Klerk. Saat itu, kawasan Molenvliet West, tempat gedung ini dibangun terletak jauh dari pusat kota dan lebih sehat dibandingkan pusat kota Batavia yang berada di dalam benteng dan waktu itu sedang terkena wabah malaria.

Seperti halnya Gedung Arsip, bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, bangunan-bangunan tersebut juga besar dan dilengkapi dengan kebun di halaman depan dan belakang.

Desain dari Gedung Arsip ini, pada awalnya berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama terdiri dari dua lantai, dibangun menggunakan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utara-selatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah gubernur-jenderal menerima tamu-tamunya. Di lantai ini juga terdapat satu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.

Kusen jendela dan kerawang atau ventilasi di atas pintu, dihiasi oleh ornamen dalam gaya Baroque dengan desain rumit namun indah. Selain langit-langit yang tinggi, jendela-jendela berukuran besar dalam jumlah yang relatif banyak, terdapat pula lantai batu yang dingin, dan atap bersekat. Bagian dalam dari bangunan tersebut dilengkapi dengan perabotan dari periode VOC.

James Cook dan awaknya tertarik akan kemegahan rumah de Klerk ketika berjalan-jalan di Molenvliet, saat singgah di Batavia pada tahun 1770.

Reinier de Klerk tinggal di rumah mewah tersebut selama hampir 20 tahun sebelum ia meninggal pada tahun 1780. Bangunan itu selain untuk keperluan rumah peristirahatan, juga sebagai rumah tinggal dari pejabat tertinggi VOC yaitu gubernur-jenderal ketika dijabat oleh de Klerk.

Terdapat dua bangunan di sayap kanan dan kiri. Bangunan di samping dari bangunan utama tersebut digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur-jenderal serta pondok tamu. Selain itu, ada pula bangunan tambahan berupa paviliun yang terdiri dari dua lantai yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang.

Dalam catatan sejarah, Gedung Arsip telah berpindah tangan berkali-kali. Dulu bangunan ini pernah terbengkalai, lalu kemudian diperbaiki oleh pemerintah Belanda untuk digunakan sebagai kantor Dinas Pertambangan.

Pada tahun 1925, bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Lands Archief. Ketika Indonesia merdeka, bangunan ini tetap digunakan sebagai kantor Arsip Negara. Kemudian bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional. Pada pertengahan tahun 1980, semua arsip yang tersimpan di gedung itu, dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di bagian selatan Jakarta.

Sekarang, kediaman de Klerk ini menjadi Museum Gedung Arsip.


Paleis van Daendels


Paleis van Daendels © Collectie Tropenmuseum

 

Paleis van Daendels © Collectie Tropenmuseum

 

Pada tahun 1808, ketika Herman Willem Daendels memutuskan untuk menghancurkan benteng tua dan dinding kota Batavia di utara dan secara resmi memindahkan pusat administratif kota ke arah selatan, ia juga memutuskan untuk membangun rumah baru bagi gubernur-jenderal. Dalam teori, para gubernur-jenderal tinggal di benteng tua dari VOC sejak tahun 1620-an, tetapi dalam prakteknya dari pertengahan abad ke-18 mereka mulai tinggal dan bekerja dari rumah pribadi di selatan dinding kota karena kondisi semakin tidak sehat di balik dinding.

Pada tanggal 7 Maret 1809, Daendels memilih sisi timur dari Paradeplaats sebagai tempat untuk “istana” barunya. Tidak pernah sederhana dalam ambisinya, Daendels tidak diragukan lagi membayangkan sebuah bangunan istana megah yang akan menjadi inti dari Batavia baru yang ia mimpikan untuk tercipta. Ia memerintahkan Letnan-Kolonel J. C. Schultze untuk menyiapkan rencana. Desain tersebut meminta sebuah bangunan utama besar dengan sayap di kedua sisinya. Istana ini akan digunakan secara eksklusif bagi gubernur-jenderal. Biro pemerintahan akan berada di gedung yang terpisah dan ada pula pondok tamu dan kandang kuda untuk 12o kuda. Pekerjaan berjalan cepat dan fondasi untuk membangun istana itu dari bahan-bahan lama dari benteng yang dibongkar. Pada tahun 1811, ketika Daendels digantikan sebagai gubernur-jenderal oleh Jan Willem Janssens, bangunan utama dan bangunan-bangunan sayap telah setengah selesai.

Namun, bagi Janssens, menyelesaikan istana itu bukan prioritas karena serangan terhadap Batavia oleh pasukan Inggris akan segera terjadi. Malah, ia menempatkan atap jerami yang sederhana di atas gedung dan kemudian tidak ada pekerjaan lebih lanjut yang dilakukan selama 15 tahun. Bahkan selama periode Inggris (1811-1816), Letnan-Gubernur Thomas Stamford Raffles tidak melihat alasan untuk melanjutkannya, dan memilih untuk tinggal di Rijswijk.

Pada tahun 1826, Gubernur-Jenderal Leonard Pierre Joseph Burggraaf du Bus de Gisignies memerintahkan insinyur kepala, J. Tromp, untuk menyelesaikan bangunan agar ditempati biro pemerintah yang tertampung secara buruk di bagian lain di Batavia. Konstruksi akhirnya selesai pada tahun 1828, sekitar 19 tahun sejak dimulai, namun gedung ini tidak pernah digunakan sebagai istana gubernur-jenderal seperti yang awalnya diharapkan oleh Daendels. Pada tahun 1835, lantai bawah ditempati oleh kantor pos, kantor Percetakan Negara, Mahkamah Agung dan Departemen Panitera Umum.

“Istana” Daendels, yang disebut pula dengan nama ‘Paleis van Daendels‘, ‘Het Witte Huis‘, ‘Het Groote Huis‘, ‘Gouvernements Hôtel‘, masih berdiri hingga hari ini dan sekarang digunakan sebagai kantor Departemen Keuangan Indonesia.


Bioscoop Metropool


Bioscoop Metropool © Sinematek Indonesia

 

Bioscoop Metropool © Collectie Tropenmuseum

 

Bioscoop Metropool © Collectie Tropenmuseum

 

Gedung Bioscoop Metropool (sekarang berubah menjadi Bioskop Metropole) terletak di Jalan Pegangsaan, Menteng; salah satu distrik permukiman yang dibuat pada zaman kolonial Belanda. Bioskop Metropole adalah sebuah gedung bioskop yang diliputi “kontroversi”. “Kontroversi” itu diantaranya disebabkan oleh adanya beberapa versi tentang tahun pendirian bioskop tersebut dan juga terdapat dua nama arsitek yang masing-masing dianggap merancang bioskop tersebut. Banyak orang menganggap bioskop tersebut dirancang oleh arsitek Belanda, J. M. Groenewegen dan ada pula yang menganggap bioskop itu dirancang oleh Liauw Goan Seng. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kedua arsitek itu, pengetahuan yang dapat kita petik dengan adanya bioskop ini yaitu mengenai gaya bangunannya. Dari sisi arsitektur bioskop ini merupakan salah satu data sejarah perkembangan arsitektur di tanah air yang, dapat dikatakan, dipengaruhi oleh aliran De Stijl. Secara umum, De Stijl menawarkan kesederhanaan dan abstraksi, hal ini dapat dilihat dari penggunaan garis horizontal dan vertikal dan bentuk persegi panjang. Aliran ini menghindari simetri dan mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan bentuk asimetri. Dalam banyak karya aliran De Stijl, garis horizontal dan vertikal diposisikan dalam lapisan dan bidang yang tidak berpotongan, sehingga memungkinkan setiap elemen ada dan tidak terhalang oleh unsur-unsur lainnya. Ciri ini tampak pada menara yang menjulang yang tegak lurus terhadap bangunan dasar dari bioskop tersebut.

De Stijl berasal dari nama sebuah jurnal yang diterbitkan oleh pelukis Belanda, Theo van Doesburg, untuk menyebarkan teori-teori kelompok aliran tersebut. De Stijl, adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada tahun 1917. Dalam pengertian sempit, istilah De Stijl digunakan untuk merujuk pada bentuk karya dari tahun 1917-1931 yang muncul di Belanda. Filosofi seni yang membentuk dasar bagi karya kelompok tersebut dikenal sebagai neoplastisisme atau seni plastik baru.

Gerakan De Stijl dipengaruhi oleh lukisan Kubisme dan gagasan-gagasan tentang bentuk-bentuk geometris ideal dari ahli matematika M. H. J. Schoenmaekers serta arsitek Frank Lloyd Wright. Gerakan ini lahir, karena pada saat Perang Dunia I, para seniman Belanda terisolasi dari dunia seni internasional, terutama Paris sebagai pusatnya pada waktu itu dan juga sebagai tempat munculnya aliran Kubisme pada awal abad 20. Inovasi dari para seniman Belanda tersebut kemudian membuat karya-karya De Stijl mempengaruhi aliran Bauhaus dan gaya internasional arsitektur serta aliran Art Deco.

“Saya tertarik pada gagasan bahwa sejarah adalah sesuatu yang dalam keadaan konstan sedang ditulis dan ditulis ulang dan arsitektur sebagai sesuatu yang dapat mengungkapkan cara-cara dimana kita mengubah masa lalu, sekarang, dan masa depan bersama untuk menjadi lebih baik.” – Richard Mosse

Jejak arsitektur Belanda di Indonesia dapat membuat kita memahami tentang pentingnya sejarah bangsa Indonesia. Mengutip ucapan Krisnina Maharani, sejarah itu melandasi pembentukan karakter bangsa, sejarah mengajarkan logika pergerakan zaman dengan runtut, sehingga kita bisa mengerti realitas yang terjadi saat ini. Salah satu cara belajar sejarah yang menyenangkan adalah dari bangunan-bangunan masa lalu. Selain itu, arsitek Yori Antar juga mengatakan bahwa bangunan merupakan bukti paling jujur dari sebuah zaman. Sebuah bangunan dapat menggambarkan peradaban masyarakat pada zamannya.

Bangunan-bangunan tua peninggalan dari masa kolonial Belanda, hendaknya kita jaga dan lestarikan sebagai salah satu warisan budaya milik Indonesia. Banyak dari bangunan-bangunan yang masih tersisa tersebut masih berdiri dan dalam kebanyakan kasus masih memenuhi fungsi aslinya. Beberapa dari bangunan itu sekarang dijadikan monumen. Akan tetapi, beberapa bangunan nasibnya tidak lebih baik dari sebuah permukiman kumuh di tengah kota. Maka apabila kemudian bangunan-bangunan tersebut direnovasi dan direstorasi, maka akan sangat bernilai bagi warisan bersama dari Indonesia dan Belanda. Karena arsitektur bangunan-bangunan tersebut merupakan hasil dari akulturasi budaya Eropa dengan budaya adat-adat di Indonesia.

Keterlibatan pemerintah dalam upaya melestarikan bangunan-bangunan tua sangat logis, karena bangunan-bangunan tersebut merupakan bukti sejarah. Hendaknya, pemerintah melibatkan para ahli, termasuk mereka yang mengerti bagaimana melestarikan bangunan-bangunan tua tersebut.

Lalu, pemerintah dapat menetapkan bangunan-bangunan tua tersebut sebagai benda cagar budaya. Karena benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman, pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

***

Saya tidak mempelajari ilmu teknik arsitektur ataupun ilmu teknik sipil, sehingga saya melihat suatu bangunan itu sebagai salah satu bentuk tertinggi dari seni. Dimulai dari seseorang mencari gagasan, menggambarkan gagasan tersebut sebagai suatu desain, hingga merealisasikannya menjadi sebuah bangunan. Arsitektur Belanda di Indonesia menurut saya adalah seni, sama halnya seperti lukisan-lukisan yang dibuat oleh Vincent van Gogh yang juga merupakan suatu seni yang dikagumi oleh banyak orang.

Berdasarkan tulisan diatas, dapat kita ketahui bahwa Belanda unggul di bidang teknik arsitektur yang terbukti dengan bangunan-bangunannya yang dapat bertahan hingga hampir 300 tahun, baik dari segi fungsi maupun estetika. Dan, inovasi Belanda dalam menemukan gaya arsitekturnya sendiri, telah memberikan dampak tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia pada umumnya.

Pada akhirnya, kita bisa berbagi perjalanan mesin waktu dan menemukan beberapa dari sedikit sejarah masa lalu dari salah satu kota utama Asia. Jangan sampai generasi penerus kita kehilangan kisahnya.

Referensi:

Kompas, Sosialita, Minggu, 25 April 2010

Koninklijk Instituut voor de Tropen, Collectie Tropenmuseum

Drs. H. Akihary, Ir. F. J. L. Ghijsels: Architect in Indonesia (1910-1929)

Scott Merrillees, Batavia in Nineteenth Century Photographs

http://commons.wikimedia.org/

http://daphne.palomar.edu/

http://en.wikipedia.org/

http://ijoli.multiply.com/

http://kabarmag.com/

http://mahandisyoanata.multiply.com/

http://masoye.multiply.com/

http://www.museum-indonesia.net/

http://www.rnw.nl/

The Cycle of Life

A friend of mine once said, ‘What is to come, will eventually go. What is missing, will not return. No need to regret, because there will always be a new and better successor. That is life cycle. Life must go on whatever happens.’

It is clear to everyone that life has a course with a beginning, a middle, and an end. It is like what we have studied in our biology class. Some organisms are born, mature, and die rapidly. Other organisms have life cycles lasting for thousand of years.

Many people fear death. But wherever we go, death will always follow. We cannot avoid death. Death is a fact of life; the question is when will it happen.

I am reminded of a movie scene that I have seen before. In the scene, a daughter asked his father.

‘Why someone has to die?’ she asked him.

‘Someone must die, so that people who are still alive can appreciate their lives better,’ replied the father.

Based on my personal experience, the death of a parent forces me to master the requisite life skill of overcoming adversity. It is like I am going through the stages of novice, intermediate and advanced.

“A life ends; another begins.” – Jake Sully, Avatar

After the demise of my father, a few years ago, my grandmother who heard the news that her son had died; since then, her health began to deteriorate until she passed away. She felt that everything had been taken from her because she outlived her husband, her grandchild, and her son.

I quote a dialogue from a movie that said, ‘No parent should have to bury their child.’

Today, it has been 40 days since my grandmother died. And I have not give a last respect to her because I did not attend her funeral. But I hope that I can visit her burial ground soon. She was the last of my both grandparents to die.

She lived to a goodly age, then died, leaving me with fond memories of her.

——————————

‘Verily we belong to God, and to God we return.’

in memory of

Nurhasni Piliang (1925–2009)

Balibo

A few days ago, I received an email from JIFFest committee members which states that the Australian film Balibo is not allowed to be screened in Indonesia by the censorship board. The film was initially planned to be screened in the 11th Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2009. And I already bought the ticket for the screening of the film on December 6, two weeks earlier.

The Indonesian government may prohibit the film being screened here as it may be deemed “offensive”. The Indonesian military spokesperson said the screening of the film here would only jeopardize relations between Indonesia and Australia. But there is yet an official written notification stating the reasons of cancellation from the censorship board.

The film tells us the story about a group of journalists who were killed whilst reporting on activities prior to the Indonesian incursions of, then, Portuguese Timor in 1975. The group composed of two Australians, a New Zealander, and two British. The film is loosely based on Jill Jolliffe’s book Cover Up, an Australian journalist who saw the first incursions of the military into the Balibo territory and reported the death of her five colleagues.

“1975. Prior to Indonesia’s invasion to East Timor, five Australian based journalists go missing. Four weeks later, veteran journalist Roger East (Anthony LaPaglia) is lured to East Timor by the young and charismatic José Ramos-Horta (Oscar Isaac) to tell the story of his country and investigate the fate of the missing men. As the threat of invasion intensifies, an unlikely friendship develops between the last foreign correspondent in East Timor and the man who would become President.”

Indonesia became the former Portuguese colony’s ruler for 24 years until 1999. And after decades of rebellion and bloodshed, East Timor is recognized as a new sovereign state on 2002. But, the deaths of those journalists remain an irritant in Indonesia-Australia relations. I try not to dwell on politicize this issue, since the Indonesian and Australian governments had concluded that the journalists were accidentally killed in the crossfire and considered the case closed. It was well understood by the two countries at that particular time.

Although the JIFFest committee had replaced Balibo with another film and that audience who had already bought tickets could watch the replacement screening or claim a refund, it was very unfortunate. Because I believe there are two sides of a story, whether you don’t agree with or it is controversial or bias, in order for us to learn another’s point of view. Therefore, to ban the film is not necessary since the issue is already resolved.